Sabtu, 22 Agustus 2015

Wahai Jiwa-Jiwa Yang Tenang


Ditengah dinginnya udara tengah
malam, ku dengar tangis mu makin dalam,....
dalam hangatnya dekapan bunda sampai engkau pun  tidur terdiam,
Dalam belai kasih seluas samudera
sang bunda bergumam,

anakku,..
engkau baru akan terbit
sedang kami menuju tenggelam.
Karena Cinta ku ikhlaskan diri yang
indah jadi berantakan,
karena cinta jua beban sembilan
bulan bunda tahankan,
karena cinta jua kupertaruhkan jiwa
di gerbang kematian,
dan yang berada dalam ridhoku
adalah Ridhonya Tuhan.

Di setiap tempat dan saat,
kulantunkan doa agar engkau selamat,
arungi hidup sebagai hamba Tuhan
yang taat dan selalu tabah hadapi penderitaan bagaimanapun berat.

Anakku,...
ayah dan mama berdoa agar engkau
selalu dilindungi para malaikat.
Dalam cahaya matamu yang suci
ku titipkan kasih yang tiada bertepi.
Kasih yang tak mampu di saiingi oleh
luas dan dalamnya bahari,
Yang kelak akan kubawa sampai
datangnya mati, sebagai sebuah janji yang pasti,

anakku,... Si permata hati kami...

Anakku...,
bila saatnya ayah dan mama tiada,
warisi cintaku dan tanam ia di dalam
dada, ukirlah bagai kidung suci yang
seirama dan senada,
Karena dengan itu, nuranimu akan
hidup dan selalu ada.

anakku,...
ingatlah selalu hanya pada
Ilahi tangamu tengadah.

Lewat Tengah Malam
Kuantar anak2ku ke pintu gerbang,
dengan doa dan kasih sayang,
walau badan penat karena berbagai
halang rintang,
aku rela asal mereka tak pernah lupa
sembahyang.
...Sering kali mereka lalai dan alpa,
melaksanakan tugas sebagai
khalifah,
selalu dan selalu kuingatkan
mereka,
sholat lima waktu adalah pelita.
Jaga selalu pelita jangan sampai
padam,
sebelum badan babak belur
karena disiksa malaikat dikubur

anak2ku...

jagalah iman jangan
sampai tenggelam....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar