Kamis, 24 September 2015

" DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG "


Sang Maha
Meliputi semua materi,
semua cahaya,
semua energi,
semua getaran,
semua daya,
semua gerak,
semua pikiran,
semua persepsi,
semua kehendak,
semua penglihatan,
semua pendengaran,
semua rasa,
semua waktu,
semua jarak,
semua dimensi,
semua ruang,
semua dunia,
semua akhirat,
semua syurga,
semua neraka,
semua wujud,
semua malaikat,
semua makhluk,
semua sifat,
semua baik,
semua buruk,
semua senang,
semua susah,
semua bahagia,
semua sedih,
semua aksara,
semua kata,
semua kalimat,
semua bunyi,
semua hidup,
semua mati,
semua nafas,
semua apa saja..,
bahkan meliputi semua
kesadaran…
RUANGAN yang merupakan realitas
dari sebuah kalimat sederhana yang
membawa kesadaran kita untuk
menafikan segala sesuatu,
LAA ILAHA..!.
Ruang yang tidak ada apa-apa lagi disitu yang bisa kita nafikan
(tiadakan). KOSONG…, HENING…,
ABADI…, AL BATHIN…, ALIF LAM
MIM…, NUN…
Masalahnya adalah, saat kita ingin
menyadari kekosongan ini, kita
dihadapkan pada banyak referensi
yang tidak mudah untuk dimengerti.
Kita digiring kepada pengetahuan-
pengetahuan yang rumit. Semakin
rumit ilmunya, maka itu dikatakan
semakin hebat. Makanya untuk
menemukan suasana kekosongan ini
saja, kita juga berumit-rumit ria.
Haruslah begini, haruslah begitu,
haruslah begiti, haruslah begito,
haruslah begita. Akhirnya kita jadi
pusing sendiri…
Padahal siapapun juga, siapa saja,
sebenarnya punya kesempatan yang
sama untuk bisa menyadari adanya
kekosongan abadi ini. Sesuatu yang
tidak perlu dicari-cari dan dibayang-
bayangkan. dan kosong kok dicari
dan dibayangkan?. Ya tidak bakalan
ketemu. Sebenarnya kita tinggal
DEKONSENTRASI…, KOSONG…, lalu
tunjuk saja INI, selesai sudah…
Kalau ada yang masih bingung juga,
maka sebuah teknik Sufi dan Para
Sahabat Nabi yang amat sederhana
berikut barangkali bisa dijadikan
sebagai alternatif cara yang patut
dicoba. Yaitu teknik NO CONFESS/
TIDAK MENGAKU. Ya…, tidak
mengaku…!. Apakah itu sulit. Jadilah
tidak mengaku pintar, tidak mengaku
hebat, tidak mengaku khusyu, tidak
mengaku bisa, tidak mengaku
tersiksa, tidak mengaku sedih, tidak
mengaku hidup, tidak mengaku ada,
tidak mengaku apa saja…
Dan bagaimana mau tidak mengaku
kalau selama ini kita diajarkan untuk
mengaku-ngaku. Ini milikku, ini
tanganku, ini dadaku, ini hartaku, ini
pintarku, ini bisaku, ini seribu
pengakuanku… Dan semua pengakuan
kita itu sudah karatan berada didalam
ceruk-ceruk memori otak kita.
Anehnya lagi, semakin kita tidak
mengaku, malah sebaliknya
pengakuan kita itu semakin pekat
muncul didalam pikiran kita. Saat kita
mengaku tidak hebat, maka yang
muncul didalam pikiran kita malah
kita yang hebat. Saat kita mengaku
tidak sombong dan angkuh, maka
yang muncul didalam pikiran kita
malah saya sombong dan angkuh.
Cobalah kalau tidak percaya.
So Insya Alloh Begitu..Pepatah Para
Al-Irsyad,Al-Ghauts,Alh-Ma’qul,Ahl-
Haqiqah,Ahl-allah dan Ahl-al Yaqn…
Ya Insya Alloh, kalau kita mencoba
untuk tidak mengaku itu dengan
pikiran kita. Untuk tidak mengaku itu,
kita masuk kedalam alam memori
pikiran kita. Bahwa untuk mengaku
tidak hebat itu caranya begini dan
begitu, untuk mengaku tidak
sombong itu kita harus begini dan
begitu. Hanya sekedar definisi-
definisi saja kesemuanya itu.
Padahal sombong itu adalah rasa.
Rasa sombong. Begitu juga dengan
rasa-rasa yang lainnya, seperti rasa
hebat, rasa angkuh, rasa bisa, rasa
hidup, rasa kaya, rasa ada… Dan
jadilah kita menjalankan rasa itu
dalam setiap langkah kehidupan kita.
Saat dada kita dilekati oleh rasa
angkuh, maka kita akan menjalankan
keseharian kita dengan rasa angkuh
itu. Kepada siapa saja kita akan
angkuh. Malah semakin lemah dan
rendah orang lain yang ada
dihadapan kita, maka rasa angkuh itu
akan semakin kental dan pekat pula
munculnya. Dan kita sangat-sangat
terbiasa masuk dan terikat dengan
rasa angkuh itu. Kita dililit oleh rasa
angkuh itu, seperti lilitan seekor ’ular
python’ yang super besar. Kita
terengah-engah seperti kesulitan
bernafas. Semakin dalam kita masuk
kedalam ruangan rasa angkuh itu,
semakin sesak pula nafas kita. Malah
sesak nafas kita itu akan lebih parah
lagi kalau ada orang lain yang
’menggemai’ (menyentuh) rasa
angkuh kita itu dengan rasa angkuh
miliknya, yang menurut kita rasa
angkuh dia jauh dibawah rasa angkuh
kita. Sesak dan menyiksa sekali.
Oleh sebab itu untuk memahami rasa
itu, Para Al-Hadrah Al-Uns/Maqom
Mabahtulloh janganlah gunakan mata,
telinga, lidah, dan kulit kita. Untuk itu
gunakanlah dada kita. So…, rasa
angkuh dan sombong, rasa mengaku
itu tadi, ternyata letaknya ada di
QOLBU kita.
Ada aku dan ada Di QOLBUKU. Aku
menjadi pengamat atas dadaku. Aku
menjadi terpisah dengan dadaku. Tuh
ada dadaku dibawahku. Aku berada
diatas dadaku, diatas semua rasa,
”balil insanu ’ala nafsihi bashirah”,(al
Qiyamah 14).
Perjalaan Haqeqat Ruhaniyah TajaliaH
Dan Sangat menakjubkan sekali…,
begitu kita berhasil menjadi
pengamat atas dada kita dengan arif,
kita seperti keluar dari dada kita. Kita
seperti berada diatas semua rasa kita.
Seketika itu pula kita akan terbebas
pula dari berbagai rasa pengakuan
yang tadinya menyergap kita. Sebab
aku ternyata adalah wujud yang tidak
pernah mengaku apa-apa, karena aku
memang tidak pernah terikat dengan
berbagai bentuk pengakuan. Aku
adalah wujud yang melampui semua
rasa pengakuan. Aku adalah wujud
yang semurni-murninya wujud, Ar
Ruh.
Aku adalah wujud yang tidak
terpengaruh oleh rasa senang
maupun sedih. Aku adalah diri yang
tidak terikat oleh rasa takut, rasa
khawatir ataupun rasa tenang. Aku
adalah wujud yang berada dalam
ruang kekosongan dari segala
pengakuan. Inilah makna Laa ilaha..
yang sebenarnya….quoting from the
Quran:
‘And give good tidings to the
humble.’ [al-Hajj, 22:34] (Wa-
bashshiri-lmukhbitin.)” Akulah Ar
Ruh yang sangat dekat dengan
Tuhan, Sang Pemilikku. INI…
Kalau sudah begini, kita tinggal
selangkah lagi saja untuk menjadi
seorang yang bertauhid, seorang
mukmin. Kita tinggal MEMANCAR
mengarah ke INI. Lalu panggil Sang
INI yang menyebut Diri-Nya dengan
Nama ALLAH…, sudah mukmin deh
kita.
Dan setelah itu kita siapkan saja
DADA kita untuk menerima berbagai
pemahaman dan pengajaran dari Allah
terhadap apa-apa yang tidak kita
ketahui. Karena Dia memang adalah
Sang Mengajarkan (Rabbi) kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya,
’allamal insaana maa lam ya’lam…’.
Masak sih nggak percaya?. Nantinya,
barulah setiap pengajaran yang kita
terima itu kita lihat di peta atau
referensi yang sudah ada. Kita sudah
sampai dimana, ada dimana, hendak
dibawa kearah mana, sedang
mengalami apa, sedang merasakan
apa, dan sebagainya.
Sekarang pintar-pintarnya kita saja
untuk mencari referensi yang terbaik
diantara referensi-referensi yang ada.
Kita mau pakai peta yang bagaimana
untuk meningkatkan kesadaran kita
dari hidup yang hanya sekedar
berkutat dengan wujud yang kosong
menjadi hidup yang penuh keheran-
heranan melihat pada yang kosong
ini ternyata ada keberartian, ada
keberadaan. ADA…
Peta terbaik, diantara peta-peta yang
ada, menurut saya adalah Al Qur’an.
Ya Insya Alloh… Al Qur’an. Peta yang
memuat ilmu tentang segala
keberadaan dan keberartian,
sekaligus juga ilmu tentang semua
ketidakberadaan dan ketidakberartian.
Nah…, bagi yang mau, ikuti sajalah
peta itu dengan telaten.
Setiap membaca sebuah ayat Al
Qur’an, misalnya yang menerangkan
tentang sebuah kebaikan, selalulah
lihat ke dalam DADA kita sendiri. Lalu
amatilah apakah suasana dada kita
itu sama dengan suasana yang
disebutkan oleh ayat Al Qur’an
tentang kebaikan tersebut. Karena
semua kebaikan pastilah punya
suasana yang khas didalam dada kita.
Kalau sama, maka kita namanya
sudah menjadi orang yang bersaksi
(syahid) terhadap kebenaran ayat
tentang kebaikan tersebut. Artinya
dada kita saat itu adalah Al Qur’an
itu sendiri. Al Qur’an yang berjalan
dibagian kebaikan.
Begitu juga saat kita membaca
sebuah ayat Al Qur’an tentang
keburukan, atau paling tidak tentang
serba kebingungan kita tentang
selendang Allah, misalnya, maka
buru-buru pulalah lihat DADA kita.
Amatilah suasana dada kita. Apakah
dada kita juga tengah penuh dengan
suasana keburukan atau serba
kebingungan tentang Allah?. Kalau
ya, maka namanya dada kita itu juga
sedang sama dengan Al Qur’an, tapi
dibagian yang tidak baiknya. Kita
telah menjadi Al Qur’an yang berjalan
tapi pada bagian tentang keburukan.
Jadi seperti apapun suasana DADA
kita itu (termasuk suasana isi otak
kita), pastilah sama dengan salah
satu atau banyak ayat-ayat al Qur’an.
Karena Al Qur’an memang adalah
gambaran dari segala kemungkinan
suasana dada dan otak seluruh umat
manusia dari zaman ke zaman. Oleh
sebab itu setiap kita membaca ayat Al
Qur’an, janganlah menganggap
bahwa ayat tersebut adalah untuk
orang lain. Jangan…!. Sebab ayat itu
adalah untuk diri kita sendiri. Agar
supaya kita menjadi saksi atas
kebenaran tentang adanya kebaikan
dan keburukan berikut dengan segala
suasananya yang ada.
Kalau sudah bersaksi, maka barulah
kita bisa menceritakan tentang apa-
apa yang kita persaksikan itu. Kalau
belum bersaksi, tapi kita sudah
berani-beraninya bercerita tentang
segala sesuatu yang suasananya
belum ada didalam dada kita, maka
manfaatnya nyaris tidak akan ada
bagi orang lain yang mendengarkan
atau membacanya. Paling hanya
sekedar akan menjadi ilmu semata
yang menyesaki otak mereka. Oleh
sebab itu Allah memperingatkan kita
bahwa:
”Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan (alami)”.
(Ash Shaff 61:3)
Al Qur’an menegaskan bahwa ada
Allah yang meliputi segala sesuatu.
Oleh sebab itu siap-siaplah untuk
menerima kenyataan bahwa pada
kekosongan ini ternyata ada SANG
ADA, yang mengaku dengan sangat
tegas: ”innani anallah laa ilaha illa
ana fa’budni wa aqimish shalaata
lidzikri… Sesungguhnya Aku ini
adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku
dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.”, (Thaha 14).
Begitu SANG ADA menanamkan
pengertiannya didalam dada kita:
”innani anallah….”, maka tegaskanlah,
isbatkanlah: ILLA ALLAH…, ILLA
ANTA…, ILLA ANTA…, ILLA ANTA…,
Benar Ya Allah, Hanya Paduka saja
yang ada, hanya Paduka saja yang
hak, hanya Paduka saja yang ada …”.
ADA…, ADH DHAHIRU, DZA LIKAL
KITAB…
Kalau Sang Ada sudah bernyata
didepan kita, ADH DHAHIRU, ADA…,
maka barulah panggil Dia dengan
merendah-rendah:”Ya Allah…, Ya
Allah…, Ya Allah…”. Artinya, saat kita
memanggil Dia, kita tidak lagi
mengarahkan kesadaran kita kepada
materi apapun juga yang bisa
divisualkan, dibayangkan,
didengarkan, dirasakan, dan
diemosikan. Kita semata-mata
menghadapkan seluruh kesadaran
kita hanya dan hanya kepada WAJAH
ALLAH, Sang Ada…
Ya…, syahadat, sebagai pelajaran
pertama saat kita mengaku sebagai
seorang yang percaya (beriman
kepada Allah), adalah untuk
menyadari dengan UTUH dan PENUH
tentang: ”laa ilaha illaallah”. ALLAH…,
Dialah Al Bathinu, KOSONG, Alif Lam
Mim…, dan Dia pulalah Adh Dhahiru,
ADA….”. KOSONG Yang ABADI dan
sekaligus pula ADA Yang ABADI…
Atau dalam tatanan kalimat yang
sangat sederhana adalah: Aku tidak
akan pernah mengaku apapun juga,
biarlah Allah saja yang mengaku-
ngaku tentang apapun juga. Aku
tiada, yang ada adalah Allah. Kullu
man alaiha faanin, wa yabqa wajhu
rabbika (Al Rahman 26-27).
Lalu setiap saat SANG ADA akan
selalu menuntun kita untuk segera
mengaturkan sembah kepada-Nya.
Setiap kita memanggil-Nya: ”ya
Allah”, maka Dia akan tuntun kita:
”fa’budni, ya hamba-Ku, sembahlah
Aku…, mengabdilah kepada Aku…”.
Begitu kita panggil Dia: ”Ya Allah…”,
mata kita ditundukkan-Nya: ”Wahai
mata, merunduklah kepada-Ku.
Rasakanlah seperti apa yang juga
dirasakan oleh hamba-hamba-Ku
yang saleh lainnya tentang
bagaimana cara seharusnya hamba-
Ku menyembah-Ku. Merunduklah…”.
Dan matapun melepaskan bebannya
berupa butir-butir bening lembut
yang mengalir deras tak tertahankan.
Semakin kita panggil Dia, mata
kitapun semakin didudukkan-Nya
dalam posisi persembahan. Lihatlah
bagaimana mata kita menyembah
Tuhan-Nya dengan caranya sendiri.
Menangis. Biarkan sajalah sang mata
menyelesaikan prosesi
penyembahannya itu sampai tuntas.
Diam.
Saat kita panggil Allah, kulit kitapun
ditundukkan oleh Allah sendiri dalam
posisi persembahan kepada-Nya.
”Wahai kulit…, merunduklah kepada-
Ku…, fa’budni…”. Dan setiap inchi
kulit kitapun bergetar halus
menyampaikan sembah kepada-Nya.
Boleh jadi pada awalnya prosesi
tersungkurnya kulit kita itu dihadapan
Allah dengan getaran yang agak
kasar. Akan tetapi biarkan sajalah
kulit kita itu menyesesaikan tugasnya
sendiri dalam menyembah Allah.
Lihatlah betapa kulit kita bergetar,
bulu-bulu halus kita bergetar, tangan
kita bergetar, tubuh kita bergetar saat
mereka didudukkan oleh Allah dalam
posisi persembahan.
Tidak hanya itu, atom-atom tubuh
kitapun didudukkan Allah dalam
posisi persembahan kepada-Nya.
Atom-atom tubuh kita itu dibersihkan
dan dimandikan oleh Allah dengan
Nur dari-Nya: ”fahua ’alaa nuurin
mirrabbihi…”, sehingga sang atom
itupun seperti berubah menjadi kupu-
kupu yang menari riang menyambut
fajar yang sedang merekah bagi
sebuah kesempurnaan. Atom-atom
tubuh kita yang tadinya gelap karena
bekas-bekas keangkuhan, dosa-
dosa, dan kekotoran kita, dicelup
oleh Allah menjadi atom-atom yang
penuh oleh liputan cahaya iman,
islam, dan ihsan…
Biarkan sajalah proses itu
berlangsung untuk beberapa saat.
Karena sebenarnya saat itu kulit kita
dan atom-atom tubuh kita sedang
dituntun sendiri oleh Allah untuk
menuju posisi persembahannya yang
sebenarnya. Posisi TALINU (rileks,
lembut, bergetar halus). Diam.
Ketika kita terus memanggil Allah
dengan lembut, tubuh kitapun akan
dituntun sendiri oleh Allah untuk
menyampaikan sembah dan sujudnya
kepada Allah. ”wahai tubuh…,
warka’uni…, wasjudni…, waqtarib…,
rukuklah kepada-Ku, sujudlah
kepada-Ku, marilah mendekat…!”.
Dengan cara mulai dari yang agak
keras sampai kepada cara-cara yang
sangat santun dan halus, tubuh kita
akan dituntun oleh Allah untuk rukuk
dan sujud kepada Allah Sendiri.
Karena memang cara penyembahan
tubuh kita kepada Allah adalah
dengan cara itu. Rukuk dan sujud.
Ikuti sajalah prosesi penyembahan
tubuh kita kepada Allah ini sampai
selesai. Diam.
Begitulah, mata kita, kulit kita, tubuh
kita, dan bahkan hati (dada, sudur)
kita secara telaten dituntun sendiri
oleh Allah untuk menyembah Allah.
Dada kita akan direkahkan sendiri
oleh Allah untuk menjadi luas,
tenang, damai, dan tentu saja
bahagia. Kita hanya menikmati saja
kesemuanya itu dengan rasa
terheran-heran. Dan kalau sudah
begitu, maka kita tinggal ikuti saja
perintah Allah berikutnya, yaitu ”wa
aqimish shalaata lidzikri…”.
Ya…, dirikan sajalah shalat dalam
suasana mata, kulit, tubuh, dan dada
kita menyembah Allah dengan
caranya sendiri-sendiri. Tidak usah
diganggu. Dan kesemuanya itu akan
selalu membawa kita untuk ingat dan
sadar bahwa benar Allah adalah
Tuhan kita yang maha meliputi segala
sesuatu. Kita tinggal siap-siap saja
lagi untuk menerima pencerahan demi
pencerahan yang memang kita
butuhkan dalam hidup kita ini,
sebagai bekal kita dalam menjalankan
tugas kita sebagai wakil Allah, kurir
Allah, duta Allah dialam dunia ini. …
Jadi selalu begitu: KOSONG (al
bathinu, Alif Lam Mim),
DEKONSENTRASI, MEMANCAR KE
SINI, lalu siap-siaplah untuk
menyadari bahwa pada saat yang
sama ada SANG ADA (adh dhahiru,
dzaa likal kitab). KOSONG dan ADA,
Al Bathinu dan Adh Dhahiru, ya…
SATU. INI…!. Masak sih hanya sampai
ketemu yang KOSONG saja, ya
bingunglah jadinya. Kalau kosong,
ya… namanya baru sadar akan Al
Bathinu. Sampai ketemu ADA gitu
lho…, Adh Dhahiru. INI…
Jika Sang ADA sudah bernyata dalam
ketiadaan apapun juga (KOSONG),
maka kita tinggal bersiap-siap saja
lagi dituntun oleh ALLAH sendiri
untuk mengenal, memahami, dan
menyampaikan berbagai hal yang
berkaitan dengan kehidupan kita
sendiri. Karena Sang ADA memang
telah meletakkan dalam liputan-Nya
paling tidak sembilan puluh sembilan
(99) Nama-Nya yang menunjukkan
aktifitas-Nya (Af’al-Nya) dalam
menata seluruh alam yang diliputi-
Nya. Dimana ke 99 nama-Nya yang
menunjukkan sifat, selendang,
aktifitas, atribut-Nya itu tepat berada
dalam liputan-Nya sendiri. Sehingga
dengan gagah perkasa Dia berhak
bersabda: ”semua sebutan nama itu
adalah milik-Ku, oleh sebab itu
menghambalah kepada Aku saja…”.
Lalu kita perhambakan saja diri kita
kepada Dia. Ya…, kita ikuti saja
apapun permintaan-Nya ”seirama”
dengan mata kita, telinga kita, kulit
kita, dada kita, tubuh kita yang
dengan caranya sendiri-sendiri ikut
permintaan Allah pula, yaitu dengan
DIAM, TENANG, LEMBUT (TALINU).
Dan Allah kemudian menyatakan
bahwa posisi terbaik untuk
menghamba kepada-Nya adalah
dengan mendirikan SHALAT.
Karena shalat memang diperuntukkan
buat kita agar kita selalu bisa sadar
penuh kepada Allah. Dari awal shalat
(takbiratul ihram) sampai dengan
salam tidak sehirupan nafaspun kita
terjauhkan dari Allah. Dalam shalat
kita selalu diajak untuk memandang
Wajah Allah, memuja Allah, memuji
Allah, menyembah Allah, merukui
Allah menyujudi Allah, berbicara
dengan Allah, berdoa kepada Allah,
dan tentu saja untuk setiap aktifitas
kita itu pasti ada respon dari Allah,
karena Dia memang ADA…
”innani anallah laa ilaha illa ana
fa’budni wa aqimish shalaata lidzikri…
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka meghambalah,
mengabdilah kepada Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat
Aku.”, (Thaha 14).
Jadi ”laa ilaha illaallah” itu
sebenarnya bukanlah hanya sekedar
sebuah bacaan ringan dan berguman
dilidah dan dibibir saja. Tetapi itu
adalah sebuah proses yang sangat
lembut dan mengharukan yang
membawa kita mampu untuk menjadi
saksi atas diri kita yang kehilangan
segala pengakuan kita. Kosong,
diam, hening, abadi. Dan dengan
seketika itu pula kita akan menjadi
saksi bahwa pada Wujud Keabadian
itu ada SANG ADA, yang mengaku
namanya adalah ALLAH. Karena kita
bersaksi kepada-Nya, maka Dia pun
akan bersaksi pula kepada kita.
Karena Dia memang adalah Sang
Maha Bersaksi, Asy Syahiid. Setelah
itu kitapun siap-siap dan bersedia
untuk dijadikan-Nya sebagai
hambanya, pesuruhnya, abdi-Nya,
kurir-Nya dalam menyampaikan Sifat-
Nya dan Af’al-Nya untuk merahmati
manusia dan alam semesta disekitar
kita.
Pada waktu-waktu tertentu kita
tinggal duduk merendah-rendah,
bersimpuh, rukuk, sujud dan DIAM di
depan Wujud-Nya dalam ritual
SHALAT sebagai sarana kita untuk
minta pertolongan, minta petunjuk,
minta penilaian kepada-Nya atas
apa-apa yang akan dan yang sudah
kita kerjakan. Wasta’inu bish shabri
wash shalah…, mintalah pertolongan
kepada ku dengan SABAR (DIAM) dan
SHALAT…( Al Baqarah 45). Dan
pastilah dia akan memberikan
jawaban dalam bentuh ILHAM
(alhamaha), berupa solusi, jalan
keluar dari segenap masalah kita, dan
rezki dari pintu yang tidak kita
sangka-sangka. Akhirnya tidak ada
sikap lain yang bisa kita tunjukkan
kecuali sikap syukur kita, yang
kemudian dibalas berlipat kali oleh
Allah dengan Syukur dari-Nya.
Karena Dia memang adalah Asy
Syakuur, Sang Maha Bersyukur.
Sehingga akhirnya yang tersisa pada
diri kita hanyalah rasa IMAN yang
bertambah dan bertambah kepadanya.
Karena setiap rasa iman kita kepada-
Nya akan dibalasnya dengan Iman
dari-Nya. Sebab Dia memang adalah
Sang Maha Beriman, Al Mu’min.
Jadi proses laa ilaha illah itu ternyata
puncaknya adalah rasa IMAN kepada
Allah. Dengan kata lain, iman inilah
puncak ilmu spiritual yang
sebenarnya, yang sudah kita lupakan
sedemikian lamanya. Ya…, rasa Iman
kepada Allah lah ILMU YANG
TERTINGGI yang bisa kita dapatkan
dalam sebuah proses beragama.
Sedangkan hal-hal yang lainnya
hanyalah merupakan aktifitas yang
menandakan bahwa kita ini hanyalah
abdi Allah, hamba Allah, kurir Allah,
khalifah Allah yang diturunkan-Nya
kemuka bumi ini untuk berkarya dan
berperadaban.

Allah – glory be to Him and may He
be exalted! – has given inanimate
objects awareness and perception by
which they glorify their Lord. The
stones fall down out of fear of Him.
The mountains and trees prostrate.
The pebbles, water, and plants glorify
Him. All this is going on but we are
not aware of it. Allah the Great said,
“There is nothing which does not
glorify His praise, but you do not
understand their glorification”.
(Quran 17:44) The companions heard
the food that was being eaten
glorifying Allah. That was because the
companions had a transparency of
heart that does not now exist among
us. All these things are part of our
world and yet we are in complete
ignorance of them.
Truly in the heart there is a void that
can not be removed except with the
company of Allah. And in it there is a
sadness that can not be removed
except with the happiness of knowing
Allah and being true to Him. And in it
thereis an emptiness that can not be
filled except with love for Him and by
turning to Him and always
remembering Him And if a person
were given all of the world and what
is in it, it would not fill this
emptiness.

Bila Ada Kata yang Kurang Berkenan
Insya allah Semata-mata Hanya
Wujud Kebodohan Diri…. dan Ke alpaan
Semua Semua Diri, Sajatinya Tiada
Ilmu Tanpa Kepintaran, Tiada Bodoh
Tanpa Berilmu dan Beramal..
Mudah2n allah Memberkati Kita
semua. aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar