Kamis, 18 Juni 2015

KITAB DIRI RAHASIA


Inilah kitab yang membicarakan
sebelum alam ini dijadikan. Bermulah
Allah menjadikan Nyawa Muhammad,
lalu Tuhan melihat kedepan tiada
sesuatu yang dilihatnya, kemudian
melihat ke belakang, kekanan, dan
kekiri namun tiada melihat sesuatu
pun. Sedangkan Ia ingin disembah
dan dipuji, tidak ada yang memuji
dan menyembahnya. Maka
dijadikanlah dirinya didalam dirinya,
kemudian melihat ke atas dan
dikatakannya ( ALIF ), keluarlah Nur,
inilah Rahasianya Muhammad,
melihat ke atas jadilah Arsy. Melihat
ke bawah jadilah Rahasianya.
Kemudian Tuhan melihat ke depan
dan dikatakannya ( I ), keluarlah Nur,
inilah Nyawanya Muhammad, melihat
ke atas jadilah Kursiyah, melihat ke
bawah inilah Nyawanya.
Kemudian Tuhan melihat ke kanan
dan dikatakan ( U ), keluarlah Nur
menjadi hatinya Muhammad, melihat
ke atas inilah syurga melihat kebawah
menjadi hatinya.
Kemudian Tuhan melihat ke kirinya
dikatakannya ( HA ), keluarlah suatu
Nur, inilah Misalnya Muhammad,
melihat ke bawah jadilah misalnya.
Kemudian Tuhan melihat ke belakang
dan dikatakannya ( HU ) , keluarlah
suatu Nur yang menjadi akalnya
Muhammad, melihat ke atas jadilah
Lauh-Mahfud, melihat ke bawah
jadilah akal Muhammad.
Kemudian Tuhan melihat ke bawah
dan dikatakannya ( HU ), keluarlah
suatu cahaya, inilah bayang-
bayangan Muhammad, melihat ke atas
inilah hati kecil, melihat kebawahnya
jadi Rupa.
Kemudian Tuhan melihat kedalam
diri-Nya, inilah yang menjadi Hatinya
Muhammad, inilah yang dinamakan
Halus.
Melihat keatas inilah yang menjadi
Rasa.
Melihat kebawah inilah yang menjadi
Air Mani.
Kemudian Tuhan melihat ke
sekeliling-Nya, dikatakan-Nya (HUA
HUA)
menyebarlah cahayanya, maka
jelaslah Nur Muhammad didalam
cahayanya laut kenyataannya Allah
Ta’ala didalam cahayanya
Muhammad, dikatakannya dirinya
Tuhan, maka dinampakkanlah dirinya
Tuhan dihadapan Muhammad,
kemudian Tuhan berkata; “Jadi
adakah engkau yang menjadikan
dirimu sehingga engkau melupakan
Nyawamu disujudkan di Baitul
Maujudi?”
Maka berkatalah Muhammad: “Engkau
baru kulihat, maka sebaiknya kita
masing-masing bersembunyi, barang
siapa yang didapat itulah yang
menjadi Hamba, yang tidak dapat
diketemukan itulah yang menjadi
Tuhan”.
Bersembunyilah engkau Muhammad
terlebih dahulu, Aku yang mencari.
Maka bersembunyilah Muhammad di
Wajah, di ingatan, di akal, namun
setiap persembunyiannya senantiasa
diketemukan oleh Tuhan.
Berkatalah Muhammad,
bersembunyilah, aku yang mencari.
Maka bersembunyilah Tuhan di waktu
5 (lima), namun Nur Muhammad tidak
menemukannya.
Maka berkatalah Tuhan: “Carilah aku
sungguh-sungguh, kemudian Tuhan
berpindah menyembunyikan dirinya di
Rahasia, juga Muhammad tidak
menemukannya.
Sehinga Muhammad berseru:
“Dimanakah Engkau bersembunyi,
sedangkan suara-Mu kedengaran tapi
aku tak melihat?”
Maka Tuhan berkata: “Aku
bersembunyi di Rahasia”
Lalu Muhammad mencarinya di
Rahasia, namun Muhammad tidak
dapat membuka matanya, dikarenakan
cahaya terang yang tidak dapat
ditembus, sehingga Muhammad
berkata: “Sudahlah nyatakanlah diri-
Mu, Engkaulah yang menjadi Tuhan”
Maka berkatalah Tuhan: “Mana tanda
kepercayaan-Mu dan dimana letak
berdiri kepercayaanmu?”
Maka dikatakanlah Muhammad:
“ASYHADU AN LAA ILAAHA
ILLALLAH",
lalu Tuhan menjawab: “WA ASYHADU
ANNA MUHAMMADAR
RASUULULLAH”.
Ketahuilah olehmu Muhammad
“Rupa” itu Sifat-Ku dan nama
bagimu, “Waktu” itu Sifatmu.
Berkatalah Muhammad: “bagaimana
sehingga Wajah itu namaku
sedangkan adalah Sifat-Mu?
Berkatalah Tuhan : adalah Rupa
(Wajah) itu namamu dan Sifat-Ku,
karena itulah Aku ingin disembah,
dipuji, dikenal, dikasihi, digembirai,
sedangkan semua itu tidak dapat
dilakukan-Nya. Sehingga dengan
demikian kujadikan diri-Ku dalam
diri-Ku.
“Waktu” itu Nama-Ku dan Sifat itu
Rupa-Ku, sebab Aku jugalah yang
sembah diri-Ku. Sesuai dengan dalil:
Artinya: Adapun yang disembah dan
menyembah itu satu.
Jadi Aku yang memuji diri-Ku, dan
mengasihani diri-Ku, dan engkau
kujadikan yaa Muhammad Akulah
yang menjadikan diri-Ku, dalam diri-
Ku, adamu itu ada-Ku-lah itu.
Kenyataanmu itu kenyataan-Ku-lah
itu.
Ketahuilah olehmu Muhammad Ada-
mu pada Nama-Ku yang
sesungguhnya di dirimu.
Adapun Sifat-Ku, ada pada DIAMMU
Adapun Rupa-Ku, ada pada
I’TIKADMU
Adapun Diri-Ku, ada pada
MANFAATMU
Adapun Lahir-Ku, ada pada GERAKMU
Adapun Perbuatan-Ku, ada pada
PERBUATANMU
Adapun Rahmat-Ku, ada pada
PERKATAANMU YG BENAR
Adapun kehendak-Ku, ada pada
HAJATMU
Adapun kekekalan-Ku, ada pada
HATIMU YG BAIK, TEMPATNYA
MUHAMMAD.
Fungsi-Fungsi Yang Dibebankan Allah
Swt.
1) Fungsi Rahasia, Kebenaran dan
Alam
2) Fungsi Nyawa, Penglihatan dan
Nama-Ku
3) Fungsi Hati, Niat dan Pengenalan
4) Fungsi Ingat, Angan-angan dan
Kekuasaan
5) Fungsi Akal, Yang Nyata dan
Kebingungan
6) Fungsi Bayang-bayang, Kepintaran
dan Kebodohan
7) Fungsi Nur, Pertimbangan dan
Pengetahuan.
TANYA: Apa sebabnya Engkau jadikan
yang tujuh itu?
JAWAB: Aku jadikan yang tujuh itu
sebab Aku ingin disembah.
TANYA: Dimanakan yang disembah
dari yang tujuh itu?
JAWAB: Aku disembah Nur pada
bayang-bayang
“Bayang-bayang, Ingat, Hati, Nyawa,
Rahasia, di Diri-Ku, dan
Akulah yang sembah diri-Ku"
TANYA: Apa penyembahan Rahasia
Pada-Mu Yaa Allah?
JAWAB: Penyembahan Rahasia itu,
ketika ia mengatakan : “A”
Penyembahan Nyawa itu, ketika ia
mengatakan : “I”
Penyembahan Hati itu, ketika ia
mengatakan : “U”
Penyembahan Ingat itu, ketika ia
mengatakan : “Ha”
Penyembahan Akal itu, ketika ia
mengatakan : “Hi”
Penyembahan Bayang-bayang itu,
ketika ia mengatakan : “Hu”
Penyembahan Nur itu, ketika ia
mengatakan : “Engkaulah Yang
Kusembah Yaa Allah”
Adapun kenyataannya Rahasia: “A”
Adapun kenyataannya Nyawa: “I”
Adapun kenyataannya Hati: “U”
Adapun kenyataannya Ingat: “Ha”
Adapun kenyataannya Akal: “Hi”
Adapun kenyataannya Bayang-
bayang: “Hu”
Adapun kenyataannya Alif, Rasa,
Nyawa Muhammad: "Mani"
Adapun Perbuatan Muhammad itu:
“Antara”
Adapun yang dinamakan: “Nama
Dirimu” artinya “Kita Berdua Berdiri,
Akulah itu Muhammad.
Adapun yang dinyatakan: “Engkaulah
itu Muhammad, itulah dinamakan kata
“HIDUP TAK MATI” artinya yang
disuruh dan yang menyuruh.
Yang mengetahui hal itu serta
dibenarkannya, panjang umurnya, dan
disukai oleh para penguasa,
dipercaya oleh orang lain,
dihindarkan dari bahaya ujian Tuhan.
Ketahuilah pula kemunculannya NUR:
Nur muncul pada bayang-bayang
Bayang-bayang muncul pada Akal
Akal muncul pada Ingat
Hati muncul pada Nyawa
Nyawa muncul pada Rahasia
Rahasia muncul pada Nur
Nur muncul pada Tuhannya.
Dari situlah kita datang dan disitu
pula kita kembali.
Maka kenalilah Aku sungguh-
sungguh Muhammad bahwa, “Kita
tidak berpisah”
Aku jadikan segala sesuatu
karenamu, sedang engkau untuk-Ku.
Muncullah engkau pada kenyataan,
Ku nyatakan engkau dan Ku lindungi
engkau.
Adapun kenyataan serta pengertian
Alif itu bersumber dari titik atau Zarra
atau Nyawa-berlindung. Yang
dinamakan Nyawa berlindung yakni
Rahasia atau Cahaya Zat dan Sifat
itulah yang memperkenalkan Tuhan.
Adapun iman itu tempatnya Rahasia,
Artinya Rahasia adalah Cahaya Hati-
Nurani, ketika baris atas, bawah dan
titik itu terbagi, maka jadilah 4
(empat) huruf, pertama ALIF, kedua
LAM dimuka, ketiga LAM dibelakang,
dan keempat HA, inilah lafasnya
(Allah SWT).
Nyawa muhammad dinamai Ma'rifat
Nyawa kita dinamakan Haqiqat
Angan angan kita dinamakan Thariqat
Tubuh kita dinamakan Syariat ialah
pengetahuan tentang pengenalan diri
didalam Tubuh kita.
Apabila Nyawa itu melihat pada Allah
SWT: Rahasia namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Alam:
Iman namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Akhirat:
Nyawa namanya.
Apabila Nyawa melihat ke dunia:
Badan jasmani namanya.
Apabila Nyawa melihat kepada badan
jasmaninya: hati kecil namanya.
Artinya : Adapun ilmu pada Allah,
kebodohan terhadap sesuatu, Adapun
ma’rifat kepada Allah, menyangkali
diri,
Adapun bertauhid kepada Allah,
keheran-heranan.
Nabi Muhammad SAW berkata kepada
Ali: ketahuilah bahwa keluar
masuknya nafas itulah yang dikatakan
sembahyang bathin selamanya tidak
membedakan antara siang dan malam
dan diwaktu tidur dan diwaktu jaga.
Apabila nafas keluar dikatakannya
"LAA"
Apabila nafas masuk dikatakannya
"HU"
Itulah nama Tuhan serta nama Nabi
yang tidak berpisah atau dinamakan
“SYAHADAT-DUA”
Keluar nafas: "Sunnah"
Shalat dirinya Tubuh
Masuk nafas: "Fardhu"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti keranjang
cermin, didalamnya ada orang seperti
wajahnya diwaktu ia masih muda.
• 40 (Empat puluh) malam sesudah ia
melihat lalu ia meninggal, empat
puluh malam didalam kubur, lalu naik
ke syurga pertama.
Keluar nafas: "Ilmu"
Shalat dirinya Iman
Masuk nafas: "Pengetahuan"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti lampu lilin
dikepalanya, terus naik ke langit
• Tiga puluh (30) malam sesudahnya
itu, ia meninggal, sekian malam
didalam kubur lalu naik ke syurga
yang kedua.
• Pegangannya pada Qur’an 30 juz.
Keluar nafas: "Dunia"
Shalat dirinya Akal
Masuk nafas: "Akhirat"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat dikepalanya cahaya
keluar, lalu naik ke langit
• Dua puluh malam setelah itu lalu ia
meninggal, sekian malam ia didalam
kuburnya ia naik kelangit ketiga.
• Pegangannya “Sifat Dua Puluh”
Keluar nafas: "Hamba"
Shalat dirinya Ingat
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya :
• Ia melihat sesuatu seperti telur,
didalamnya ada seperti masjid,
cermin didalamnya, ada orang seperti
wajahnya diwaktu mudanya.
• 13 (tiga belas) malam merikutnya ia
meninggal, sekian malam pula ia
didalam kuburnya lalu ia naik ke
syurga yang ke 4 (empat).
• Berdirinya Rukun 13.
Keluar nafas: "Sifat"
Shalat dirinya Hati Sanubari
Masuk nafas: "Zat"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat nur yang berdiri di
pusatnya, seperti terangnya bulan ke
14, didalamnya ada orang seperti
wajahnya diwaktu mudanya.
• Lima malam sesudahnya ia
meninggal, dan sekian lama juga
dikuburnya, ia naik ke syurga yang ke
lima.
Keluar nafas: "Nabi"
Shalat dirinya Hati Nurani
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat “seperti rambut” berdiri
diantara kedua matanyasampai ke
syurga, di dalamnya ada Nur
yangmerah seperti matahari.
• 3 (tiga) malam sesudahnya ia
meninggal, sekian malam juga di
dalam kuburnya, ia naik ke syurga
yang ke 6 (enam).
• Penerapannya dalam tafakkur : “
Mulut ditutup, nafas melalui hidung”.
Keluar nafas: "Rupa Tuhan"
Shalat dirinya Nyawa
Masuk nafas: "Wali Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat seperti busa-busa emas
sampai di langit (bulan) berdiri
diantara kedua kening seperti
“rambut yang hijau” melekat di Arsy,
ada juga seperti bulan 14 munculnya.
• 1 (satu) malam kemudian ia
meninggal, semalam juga dikuburnya
ia laik ke syurga yang ke 7 (tujuh).
• Diberikan perasaan seperti orang
yang sedang bersetubuh ni’matnya.
Inilah berdirinya “Jibril”.
Keluar nafas: "HU" Shalat dirinya
Rahasia
Masuk nafas: "HU"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat permata yang jernih
gilang gemilang, menjadi orang
seperti dimasa mudanya, bercahaya
wajahnya dan dirinya. Itulah “Halus
Kita” keluar, itulah juga Nur, Itulah
juga yang menjadi Tubuh kita.
• Pada saat lepasnya Nyawa,
diberikan perasaan seperti keluarnya
mani. Pada hari kematiannya itulah ia
dikuburkan, hari itu juga ia naik ke
syurga yang ke 8 (delapan) di “Arsy
Kursyiyah”.
• Inilah yang tidak menunggu bacaan
talqin.
• Inilah berdirinya Muhammad,
• Inilah yang dinamakan:
→ “shalat yang berkekalan dan
berkepanjangan”.
→ Tali yang tidak putus pada Allah.
→ Kain Kafan yg tidak hancur
Jika kita berdiri untuk shalat, pada
haqiqatnya ALIF itulah yang berdiri
untuk shalat. Maksudnya: Naikkan
terlebih dahulu nafasmu kemudian
berdiri, artinya: Nyawa yang terlebih
dahulu berdiri, kemudian Tubuh
sebab tidak mungkin Tubuh yang
dapat mendirikan Nyawa, sebaliknya
Nyawa itulah yang mendirikan Tubuh.
Jangan bertentangan perbuatan
Tubuh dengan Nyawa, karena yang
demikian itu sama halnya dengan
orang yang menserikatkan Tuhan.
Hal ini diibaratkan bahwa, Nyawa itu
ibarat Imam terhadap Tubuh, sudah
tentu Imam itu terdahulu yang berdiri
kemudian ma’mum. Itulah sebabnya
maka “Imam” itu wajib diketahui.
Bilamana ada orang yang bertanya
siapa Imammu dalam shalat, maka
jawablah bahwa “Al-Qur’an itulah
Imamku”...
Apa artinya Al-Qur’an itu?...
Al-Qur’an itu Kalamullah atau
perkataan Tuhan, dan Tuhan itu
bersifat Qadim, jadi Al-Qur’an itupun
Qadim. Jadi pada haqiqatnya Tuhan
itulah Imam, tanpa demikian ini
berarti shalatnya tidak sah. Sebab
yang dimaksudkan shalat disini ialah
Dzahirnya perbuatan.
“Dzahir” artinya perbuatannya Tuhan
pada kita. Allah juga pada
haqiqatnya. Sehingga kita bersatu
kata atau sekata dengan Imam (Imam
dengan Ma’mum).
Dikatakan “Imaman Lillahi Ta’ala”,
artinya Imam karena Allah Ta’ala.
Dikatakan “Ma’muman Lillahi Ta’ala”,
artinya Ma’mum karena Allah Ta’ala.
Imam itulah yang menggerakkan
ma’mum, demikian pulalah Nyawa
itulah yang menggerakkan Tubuh,
dan tidaklah Nyawa itu dapat
bergerak jika tidak karena kehendak
Tuhannya.
Bila hendak Ruku’, turunkan nafasmu
dahulu, kemudian badanmu ruku’.
Begitu pula I’tidal (Sami Allahu Liman
Hamida), naikkan kembali nafasmu,
kemudian tegak.
Sujud juga demikian, turunkan dahulu
nafasmu, kemudian sujud.
Lawan sujud juga demikian, naikkan
dahulu nafasmu, kemudian
mengangkat kepala (kembali duduk).
Demikianlah Nafas itu diikuti naik
turunnya, begitulah Imam para Nabi
termasuk Nabi Muhammad saw, dan
para Wali.
Inilah yang dikatakan “IMAM TANPA
DI IMAMI”.
Bila ada orang yang memakai
(memperkenalkan) hal ini, maka itulah
orang yang sah dijadikan Imam.
Jadi bila ada orang yang menjadi
Imam sedang ia tidak mengetahui hal
ini, sedang Ma’mumnya ada yang
mengetahui, maka dikatakanlah
“IMAM YANG DI IMAMI OLEH
MA’MUM”.
Selanjutnya bila sudah membuang
Takbiratul Ihram, tahanlah nafasmu
sebentar, itulah yang dikatakan
“Lenyap Kepada Nur Muhammad”.
Adapun yang dibicarakan masalah
Nahwu dan Sharaf, “huruf” Baris, dan
Lagunya”. Jadi hanya masalah
“Lafaz”.
Bila dikatakan bahwa “Kata-Kata
Tuhan Itu Bukan Huruf, Bukan Suara,
Bunyi, Tidak Berawal, Tidak Berakhir,
Dan Tidak Tasdik”, maka bingunglah
orang-orang Nahwu dan Sharaf.
Sebab bukan Huruf. Bahkan baris tiga
Alif itu tidak dilihat oleh Nahwu dan
Logat. Sebab huruf tidak bersambung.
Sebab Alif yang ditulis dengan tinta
itu menunjuk kepada Alif yang bukan
tinta. Sedangkan Alif yang bukan tinta
itu menunjuk kepada kata-kata
Tuhan.
Bila tanda kematian telah tiba, maka
hal yang sangat penting untuk
dilakukan adalah:
- Perbanyaklah bertobat kepada Allah
swt, atas segala kesalahan-kesalahan
yang pernah diperbuat lahir maupun
bathin, besar atau kecil, sengaja
maupun yang tidak disengaja.
- Perbanyaklah berdzikir kepada Allah
swt:
- Laa Ilaaha Illallah
- Allah, Allah
- Hua, Hua
- Ah, Ah
- Serahkan dirimu sepenuhnya,
artinya gaibkan dirimu kepada Nur
Muhammad, dengan demikian
sampailah engkau atau kekallah
engkau pada Zat Allah swt, Sebab
mustahil akan bercerai Nur dengan
yang punya Nur, laksana matahari
dengan cahayanya. Insya Allah
selamatlah engkau.
- Sangkalah dirimu didalam rahmat
Tuhanmu, jika engkau menyangka
dirimu disiksa, maka disiksalah
engkau, bila menyangka dirimu
diselamatkan dari segala bahaya,
maka diselamatkanlah engkau.
- Adapun tanda itu harus, artinya:
boleh jadi ada, boleh jadi tidak ada,
tergantung kepada kehendak Allah
swt. Hanya kematian itu yang pasti
adanya.
Adapun tanda kematian itu sebagai
berikut:
- Melihat Nur yang lebih terang dari
cahaya matahari.
- Melihat ke langit tujuh susun tanpa
halangan sampai pada Arsy
Qursyiyah.
- Melihat Nur yang terang, tiba-tiba
ada seorang laki-laki berpakaian
hijau berdiri disebelah kananmu lalu
memegang telunjukmu dan berkata;
“Lupakan saja dunia yang gelap ini,
akhirat itulah yang terang, kesanalah
engkau, dan Allah lebih
mengetahuinya”, Muhammad itu yang
mendatangimu dan katakanlah:
“Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa
Asyhadu Annaka Muhammadan
Rasuulullah”
Artinya: Aku bersaksi bahwa Tiada
Tuhan selain Allah, dan Anda adalah
Muhammad Rasulullah.
- Selanjutnya melihat Nur yang tidak
dimengerti tak ada seumpamanya,
muncul lalu lenyap, muncul lagi dan
segala sesuatu sudah pada sujud,
itulah tanda akhir hidupmu di dunia
ini, tidak akan kembali lagi untuk
selama-lamanya.
- Adapun perasaanmu lebih nikmat
daripada bersetubuh antara suami
dengan isteri. Biasa saja terjadi kalau
diketahui jalannya, dan sehubungan
dengan hal itu ada hadits Qudsi yang
menunjangnya, yang artinya:
“Ingatlah Aku (Allah) diwaktu
senangmu, maka Aku (Allah)
mengingatmu diwaktu susahmu”.
Pertanyaan:
- Manusia diwaktu senang, kapan?
Dan manusia diwaktu susah, kapan?
Dan bagaimana caranya mengingat
Allah diwaktu senang?
- Adapun orang yang bias
mendapatkan kenikmatan itu, tanda-
tandanya:
Basah disekitar alat kelaminnya,
karena keluarnya air mani ketika
berpisahnya Tubuh dengan Nyawa.
- Sewaktu mengucapkan Laa Ilaaha:
niatkan dirimu lenyap bersama Nur
Muhammad pada Dzat Allah
- Kemudian mengucapkan Illallah:
niatkan dirimu kekal bersama Nur
Muhammad pada Dzat Allah.
Lailahailallah:
- Laa Ilaaha, artinya menafikkan atau
meniadakan
- Illallah, artinya mengisbatkan atau
mengadakan pada wujud Allah.
- Hati yg menarik, Nyawa yang
ditarik, Rahasia tempat menarik.
- Cahaya Cermin itu adalah tempat
Manusia
- Cahaya Intan itu adalah tempatnya
Muhammad
- Cahaya Jamrud itu adalah
tempatnya Allah swt
- Maka dimasukkanlah diri-Nya
didalam Cahaya Cermin, kemudian
berpindah ke Cahaya Intan, kemudian
ke Cahaya Jamrud didalam Nur Ilahi
bersama Muhamad
- Demikianlah cara pengembalian
serta pengekalan para Aulia Allah.
- Ketahuilah bahwa:
- Dzat Allah itu bathin pada Nyawa
Muhammad, sehingga tidak ada
pemisahan antara Hati Nurani (Nyawa
kita) dengan Nyawa Nabi kita serta
Dzatnya Allah, artinya: tubuh itu
dapat bergerak, berkehendak, kuasa,
hanya karena perintah dari Nyawa
kita. Sedangkan Nyawa dibawah
perintah Nur Muhammad, sehingga ia
dapat bergerak, kuasa dan
mengetahui.
- Adapun Nyawa Muhammad, nyata
pada Dzatnya Allah, menurut dalil
yang mengatakan Artinya: Seandainya
bukan karena engkau Muhammad,
Aku tidak menjadikan segala sesuatu.
Arti Haqiqatnya: “Tidak berpisah Nur
dengan yang punya Nur”.
Mengenal Allah, Dzat, Sifat, Asma,
Af’al, Diri, Tubuh, Hati, Nyawa,
Rahasia, itulah bernama “Insan” atau
“Tuhan”.
- Yang memerintah Tubuh kita, Af’al
(Perbuatan) pada Allah
- Yang memerintah Hati kita, Nama
pada Allah
- Yang memerintah Nyawa kita, Sifat
pada Allah
- Yang memerintah Rahasia kita, Dzat
pada Allah
.
Sabda Nabi Muhammad SAW Artinya :
Pengenal pada diri ada empat: Tubuh,
Hati, Nyawa, dan Rahasia.
Artinya : Beginilah pengenal pada diri
(tubuh) kita serta Tuhan.
Artinya : Ketahuilah Kekuasaan Tuhan
dan Kehendaknya dalam segala
sesuatu tiada yang mencampurinya.
Artinya : Semua kata-kata dan kalimat
itu adalah kata-kata dan kalimat
Tuhan.
Artinya : Pengenalan dengan meng-
Esakan (men-Tauhidkan) Allah.
Artinya : Tidak sempurna Islam
seseorang, kecuali mengenal Iman,
Yang dikatakan orang beriman ialah,
orang yang “Mengenal Dirinya,
Mengenal Tuhannya”.
Artinya : Hati orang beriman, Rumah
Allah.
NAFAS: Adapun bilangan keluar
masuknya nafas dalam sehari-
semalam sesuai dengan bilangan
huruf Al-Qur’an = 32.005.345 (tiga
juta lima ribu tiga ratus empat puluh
lima).
SYAHADAT
: Adapun Syahadat itu, “Hidupnya”
Allah yang dijadikan Tubuh pada kita.
Isyaratkan bahwa Tubuh kita tidak
bercerai dengan Hidupnya Allah swt.
SATINJA: Adapun Satinja itu, Cahaya
Allah yang menjadi kesucian pada
hati kita, menjadi rumah-Nya orang
mu’min. Isyaratkan bahwa kesucian
kita tidak berpisah dengan Nur Allah
swt. Jadi Hati kita tidak terpisah
dengan Halusnya Allah swt.
JUNNUP' : Adapun Junnu itu,
Halusnya Allah yang dijadkan Rasa
Ni’mat pada diri kita. Di isyaratkan,
tidak berpisah ni’mat kita dengan
Halusnya Allah swt.
PERSETUBUHAN: Sebelum
melaksanakan malam pertama bagi
pengantin baru (juga bagi pengantin
lama kalau belum pernah
melaksanakannya), hendaknya
melakukan terlebih dahulu “Nikah
Batin”.
Seorang suami jangan hanya
mengawini isterinya hanya tubuh
kasarnya saja, tapi yang harus
dikawininya ada 6 (enam) macam,
yaitu :
1) Tubuh
2) Hati
3) Nyawa
4) Rahasia
5) Tubuh Halusnya
6) Maunya
Seorang suami harus meminta
halalnya dari isterinya keenam macam
itu.
Kalau tidak tahu silahkan tanyakan
kepada yang tahu.
- Dimisalkan makanan yang telah
dihidangkan:
- Maka sebelum dimakan
diucapkanlah dzikirnya Tubuh, Hati,
Nyawa, Rahasia.
- Pada suapan pertama: dikatakan "A"
Tidak disentuh lidah. Inilah suara
mula jadi.
- Pada suapan kedua: dikatakan "I, U"
jangan disentuh lidah. Inilah “Junnu”.
Selamat dunia & akhirat.
- Jika sudah berulang-ulang kali
suapannya, dikatakanlah "A" sebab
itulah yang tidak disentuh tulisan,
jangan dilupakan sampai selesai.
Beginilah cara Ali dengan Fatimah.
- Dalam buku Yoga dan sex, dalam
waktu sekejap mata, sepasang suami
isteri yang mencapai klimax dari
hubungan sexnya, akan lebih dekat
dengan Allah swt.
Justru itu jangan kerja seperti alu,
tidak ada hasil. Jadi kalau kerja pasti
ada hasilnya. Apakah :
- Manusia berilmu?
- Manusia berpangkat?
- Manusia berharta?, dsb...Mudah-
mudahan mengerti maksudnya.
- Nabi Khaidir a.s: Bagaimana yang
dikatakan “Awal Permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Barang
siapa yang mengetahui tentang awal
permulaan ini, maka Allah Swt,
mengampuni segala dosa-dosanya
serta kedua orang tuanya, begitu pula
segenap sanak keluarganya dan
familinya, jauh maupun dekat,
diampunkan segala dosa-dosanya
dunia dan akhirat.
Sewaktu kita masih berada di dalam
pengetahuan Allah Swt., kemudia
pindah kepada kenabian (alam
nubuah) dan juga kita masih pada
Angin, Air, dan Tanah.
- Nabi Khaidir a.s: Siapa nama kita
pada awal permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Adapun
mula-mula nama kita pada Allah
Ta’ala :
- bagi laki-laki bernama ALI”
- bagi perempuan bernama
“FATIMAH”.
- Sewaktu kita tinggal pada Darah
- 1 bulan
- 2 bulan
- 3 bulan
- 4 bulan
- 5 bulan
- 6 bulan
- 7 bulan di dalam rahim ibu
lengkaplah Tubuh, maka dibacakan
“Al-Hamdu”
- 8 bulan di dalam rahim ibu
dibacakanlah “Qul Huwallaahu Ahad”
- 9 bulan di dalam rahim ibu maka
Tuhan berkata: "Bersiap-siaplah
untuk keluar ke dunia, disambut
dengan malaikat dan rezeki yang
murah, banyak, atau sedikit, demikian
pula umurmu panjang atau pendek".
Berkata syahadat pada Tuhan: Saya
takut yaa Tuhan.
Kenapa engkau takut sedang Aku
yang menyuruhmu?
Saya takut sebab saya belum tahu
siapa namamu yaa Tuhan.
Tuhan berkata: Alif namaku.
Syahadat berkata: kalau begitu sama
dengan kita.
Tuhan berkata: Siapa namamu?
Syahadat berkata: Alif juga namaku.
Kalau begitu sama namamu dengan
nama-Ku.
Ketahuilah Aku, agar engkau Ku
ketahui juga. Kenalilah Aku, agar
engkau Ku kenal pula.
Dengan cara bagaimana aku
mengetahui yaa Tuhan?
Tuhan menjawab: “Yaitu dengan baris
diatas (A). itulah sebabnya tangis
pertama bayi lahir kedunia.
Bila ada orang yang bertanya
kepadamu, bagaimana
pengetahuanmu pada Allah Ta’ala
sehingga engkau dinamakan orang
yang berma’rifat.
Katakanlah kepadanya: “saya
mengetahui dengan pengenalannya
sendiri, tempat saya melihat dan
mengetahui, artinya dengan
pengetahuannya saya mengetahui,
dengan pengenalannya saya
mengenalnya”.
Ketahuilah olehmu tentang “Rahasia
Mati” sebelum mati.
Barang siapa yang telah mengetahui
hal tersebut, berarti itulah orang yang
telah mempersiapkan dirinya bagi
Tuhannya, dan Tuhanpun tersedia
baginya.
Yang dimaksudkan ialah :
- Mandikan dirimu, bukan dengan air
- Bungkus dirimu, bukan dengan kain
kafan
- Sembahyangi dirimu sebelum
matimu
- Kuburkan dirimu, bukan dengan
tanah
Karena sesungguhnya Tuhan telah
berkata bahwa bagi hamba-Ku yang
demikian itu, itulah yang tidak
bercerai dengan Aku, dan lepas dari
segala tuntutan dunia dan akhirat.
Itulah hamba yang beriman sungguh-
sungguh dan berserah diri
sepenuhnya kepada Allah Ta’ala
semata.
Adapun kematian itu ada 4 (empat)
tingkat, yakni :
1) Kematian Syariat: Yaitu
mengucapkan dzikir Laa ilaaha Illallah
pada akhir kematiannya
2) Kematian Thariqat: Yaitu
mengucapkan dzikir Allah, Allah pada
akhir kematiannya
3) Kematian Haqiqat: Yaitu yang
mengucapkan dzikir Huwa, Huwa
pada akhir kematiannya
4) Kematian Ma’rifat: Yaitu
mengucapkan dzikir Ah, Ah, pada
akhir kematiannya
→ Tanda-tanda Kematian Syariat:
Yakni Hancur tubuhnya dalam kubur
→ Tanda-tanda Kematian Thariqat:
Yakni tubuhnya tidak rusak dan
kering
→ Tanda-tanda Kematian Haqiqat:
Yakni Tubuhnya utuh dan rambutnya
serta kukunya bertambah panjang,
wajahnya bercahaya-cahaya.
→ Tanda-tanda Kematian Ma’rifat:
Yakni tubuhnya lenyap dalam kubur,
diambil oleh Malaikat, dibawa ke
Tanah Suci menjadi “Wali Allah”.
→ Yang dikatakan “sudah
membungkus diri sebelum mati ialah:
Lenyapkan Tubuhmu kedalam hatimu.
→ Sudah memandikan diri sendiri
bukan dengan air ialah : Lenyapkan
dirimu dilaut adanya Allah.
→ Sudah menyembahyangi diri
sendiri, ialah Rahasiamu lenyap pada
Nur Muhammad, Nur Muhammad
lenyap pada Nur Allah.
→ Tetapkan hatimu dalam keyakinan
bahwa Tuhan itu Esa adanya.
→ Bila sudah ada nur yang tiada
seumpamanya, sedang masih ada
perasaan sakit dirasakan, itu belum
yang sebenarnya. Jangan di ikuti.
→ Bila sudah merasakan ketenangan
dan kenikmatan semata dan seluruh
perasaan telah sujud, berarti yakinilah
bahwa Tuhanmu telah ada, apakah
ada Nur atau tiada, berangkatlah.
Insya Allah anda telah selamat.
- Adapun hikmah yang dikehendaki
dalam Shalat Subuh itu, yakni
mensucikan seseorang daripada
kelupaan dan kelalaiannya, sehingga
menetapkan hadapannya semata-
mata kepada Allah Ta’ala yang tiada
seumpamanya sesuatu. Itulah
sebabnya maka tidak ada shalat
sunnah sesudah Shalat Subuh.
- Adapun yang dikehendaki dalam
Shalat Dhuhur itu, yaitu: sucikan
pandanganmu melihat ke-Esaan serta
kesempurnaan Allah Ta’ala sampai
memasuki waktu Ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam
Shalat Ashar, yakni sucikan dirimu
serta himpunkan penglihatan
sempurnamu menghadap pada
Himpunan Allah (Tauhid) Yang Maha
Esa. Itulah sebabnya tidak ada shalat
sunnah dibelakang shalat ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam
Shalat Maghrib, yakni sucikan
pendengaranmu, penglihatanmu, serta
kata-katamu.
- Adapun yang dikehendaki dalam
Shalat Isya’, yakni sucikan
kegelapanmu menuju yang terang,
artinya hilangkan keakuanmu,
serahkan dirimu kepada yang punya
diri (pencipta). Jelasnya hanya Allah
swt yang berkuasa, berkehendak,
yang hidup seterusnya, tiada yang
lain.
- Adapun yang dikehendaki dalam
Shalat Witir, yakni menetapkan
ingatan lahir dan bathin, tertuju
kepada Allah semata-mata, demi
untuk dan karena Allah semata.
Bagi orang yang telah memiliki
keyakinan yang putus adanya maka
tiada lagi hal yang tersembunyi
baginya, bahkan Tuhannya itulah
yang paling nyata dalam segala hal.
Baginya tiada perbedan diwaktu
hidup didunia dan diakhirat. Mereka
telah yakin bahwa hidupnya itu tidak
akan mengalami kematian, sekalipun
kelak akan berpisah dengan
tubuhnya.
Dalam arti men-Tuhankan Allah swt.
itu adalah menyadari seluruh jiwanya
bahwa segala bentuk serta
penghayatan dirinya, pada
Tuhannyalah ia mengharapkan. Sebab
segala yang ada adalah hak dan milik
Tuhan, bahkan dirinya sendiri telah
bukan lagi miliknya. Mereka telah
menyadari bahwa ke-aku-annya
selama ini adalah “palsu” belaka.
Adapun yang bernama itu, laksana
gelombang dengan air lautan. Bila
gelombang itu telah tiada (sirna),
maka yang ada hanya lautan itu
sendiri. Jelaslah dalam hal ini bahwa
gelombang itu adalah merupakan sifat
dari lautan. Laksana bayang-bayang
dengan yang punya bayang-bayang.
Dengan demikian tiadalah bedanya
jika kita menyadari hal ini bahwa
yang bathil itu, bathil sejak dahulu,
sekarang maupun akan datang.
Sebaliknya bahwa “Haq” itu awal tak
berpermulaan akhir tak berkesudahan,
tiada ia dicakup oleh ruang dan
waktu, nyata ia dibalik segala yang
dinyatakan.
Siapakah dia?
Dia itulah yang sebenar-benarnya
hakikat diri kita yang tak dapat
diragu-ragukan lagi.
Bahwa Dzat itulah yang bersifat,
artinya bahwa hidup kita ini adalah
kenyataan sifatnya, dan yang bersifat
itulah yang menghidupi segala
sesuatu.
- Jadi yang menjadi Hidup (Nyawa)
Muhammad dinamai “Titik”, artinya
Rahasia.
- Sedangkan yang dinamai “Rahasia”
adalah Nur Zat.
- Yang menjadi sifat itu adalah yang
dinamai “NUR”, artinya Nur yang
tidak berubah-ubah (hidup yang tidak
berubah).
- Adapun Jiwanya (Nyawa) adam,
adalah Alif, artinya Himpunan, maka
Nyawa namanya.
- Jadi Nyawa itu ada 2 (dua), yaitu;
1. Nyawa yang dinamai “Titik” adalah
Nyawanya Muhammad
2. Nyawa yang dinamai “Alif” adalah
Nyawanya Adam.
- Inilah yang tiga tidak berpisah
Jadi bila hal tersebut telah menyata
pada kita, berarti kita telah
menyaksikan (melihat) buktinya
sempurna.dengan demikian maka
selamatlah anda untuk selama-
lamanya, kekal abadi dunia akhirat.
Inilah dapat dikatakan “kesempurnaan
ilmu” atau kepastian ilmu.
Segala yang dijadikan itu adalah
bayang-bayang pada Tuhan. Sedang
bayang-bayang dengan yang punya
bayang-bayang adalah “Satu”. Gerak
bayang-bayang itu adalah geraknya
yang punya bayang-bayang.
Yakinkan dan jangan ragu-ragu lagi
nanti salah.
NYAWA:
menurut Syariat = NYAWA namanya
menurut Thariqat = NUR namanya
menurut Haqiqat = ZAT ALLAH
namanya
menurut Ma’rifat = TIDAK ADA YANG
LAIN KECUALI ALLAH.
NABI MUHAMMAD SAW DENGAN
ANAKNYA FATIMAH:
Nabi Muhammad saw berkata kepada
anaknya: “Hai Fatimah, apakah
engkau masih ingat yang telah saya
katakana padamu?”
Fatimah menjawab: “Ya saya ingat
semuanya”
Ingatlah sebuah “kata” yang tak
berpisah dengan Tuhan, yaitu
sewaktu Tuhan memesrahi sesuatu,
yakinkan dalam hatimu yang bersih.
Barang siapa yang menemukan
pengenalan yang sesungguhnya
didalam kehendak Tuhannya, itulah
orang yang memakai: Penglihatan
Tuhannya ia melihat, Pendengaran
Tuhannya ia mendengar, dengan kata
Tuhannya ia berkata, dan katakanlah
nama itu tidak berpisah dengan yang
punya nama.
Janganlah merasa ragu dalam hatimu,
itulah sebabnya sehingga ada yang
dikatakan: “Kepastian Ilmu” atau Ilmil
Yakin, Haqqul Yakin.
Yakinkan dalam hatimu, tidak
berpisah dengan Tuhanmu serta
Rasulnya. Sebab haqiqat NYAWA
yang suci itulah yang dinamakan
“Muhammad” artinya orang yang
dicinta.
Artinya: Insan itu Rahasia-Ku, dan
Aku Rahasianya.
Kuatkan Tauhidmu pada Allah swt.
Adapun pengertian sebenarnya
kalimah:
Laa Ilaaha Illallah yaitu “TIADA
ASALKU YANG SELAIN DARI ALLAH
TA’ALA”
Nabi Muhammad saw berseru kepada
seluruh umatnya:
“Ketahuilah dirimu didalam dirimu”
Yakni: ada 4 (empat) : Rahasia,
Nyawa, Hati, Tubuh.
1) Rahasia itu Nur Zatullah
2) Nyawa itu Nur Sifatullah
3) Hati itu Nur Asmaullah
4) Tubuh itu Nur Af’alullah.
Dari ke 4 (empat) tersebut diatas, 3
(tiga) yang dapat melihat pada Allah.
Allah itulah yang menjadikan semesta
alam beserta isinya dan berubah-
ubah, Tuhan juga yang meliputi,
menembus, memesrahi beserta isinya.
As-Syeikh Lukmanul Hakim bertanya
kepada anaknya : “Apa sebabnya Al-
Fatihah dibaca dalam shalat”?
Indrajaya menjawab: “bahwa shalat
lima waktu berasal dari surah Al-
Fatihah, pada awalnya, yaitu:
Al-Hamdu terdiri dari lima huruf yaitu
:
Alif
Lam
Ha
Mim
Dal
Allah swt menjadikan waktu yang
lima itu sebagai berikut :
1) Waktu Dhuhur: dijadikan dari huruf
Alif-nya Al-Hamdu
2) Waktu Ashar: dijadikan dari huruf
Lam-nya Al-Hamdu
3) Waktu Maghrib: dijadikan dari
huruf Ha-nya Al-Hamdu
4) Waktu Isya’: dijadikan dari huruf
Mim-nya Al-Hamdu
5) Waktu Subuh: dijadikan dari huruf
Dal-nya Al-Hamdu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar